Ibu yang baik dalam Islam

Oleh
Syaikh Abdullah bin Jibrin

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya :

Bolehkah seorang ibu mengkhususkan salah seorang anaknya lebih dari yang lainnya, dari cara melepas kepergiannya, menerima kedatangannya, padahal perlakuan anak-anaknya terhadap ibu mereka tidak berbeda. Demikian pula anak cucu, perlakuan mereka terhadap nenek mereka tidak berbeda. Bolehkan hal tersebut ? Berilah kami penjelasan, semoga Allah memberi anda pahala kebaikan

Jawaban
Wajib bagi orang tua berbuat adil diantara anak-anaknya, tidak melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam hal nafkah, pemberian hadiah dan sebagainya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam

Artinya : Takutlah kepada Allah dan berbuat adillah antara anak-anakmu”

Artinya : Bukanlah kamu ingin perbuatan baik mereka kepadamu sama ? Maka perlakukanlah mereka dengan sama”

Para ulama besar senantiasa berbuat adil kepada anak-anaknya hingga pada permasalahan mencium anak, senyum, menerima kedatangan dan sebagainya, berdasarkan perintah untuk berlaku adil terhadap anak-anak. Akan tetapi diperbolehkan utuk tidak menyamaratakan antara mereka, pada kondisi seperti orang tua yang mendahulukan anak terkecil, mengutamakan yang sakit dan semacamnya, berdasarkan alas an kasih saying. Jika tidak ada alas an tersebut, berarti kewajibannya adalah tetap adil dalam setiap interaksi dengan mereka, apalagi jika mereka sama pula dalam hal ketaatan, pengabdian dan silaturhaminya kepada orang tua.

[Fatawal Mar’ah 1/96]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita , penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hazmah Fakhruddin]

Iklan

BERSUCI DARI AIR KENCING BAYI

Oleh
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta

Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Ketika seorang wanita
melahirkan bayi
laki-laki ataupun perempuan, selama dalam asuhannya bayi itu selalu
bersamanya dan tidak pernah berpisah, hingga terkadang pakaiannya
terkena air kencing sang bayi. Apakah yang harus ia lakukan pada saat
itu, dan apakah ada perbedaan hukum pada air kencing bayi laki-laki
dengan bayi perempuan dari sejak kelahiran hingga berumur dua tahun
atau lebih ?. Inti pertanyaan ini adalah tentang bersuci dan shalat
serta tentang kerepotan untuk mengganti pakaian setiap waktu.

Baca lebih lanjut

Khitan Wanita


Pertanyaan :

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta’ : “Saya mendengar khatib di masjid kami berkata di atas mimbar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghalalkan khitan bagi para wanita. Kami berkata kepadanya bahwa wanita-wanita di daerah kami tidak dikhitan. Bolehkan seorang wanita tidak melakukan khitan ?”

Jawaban :

Khitan bagi wanita merupakan kehormatan bagi mereka tapi hendaknya tidak berlebihan dalam memotong bagian yang dikhitan, berdasarkan larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Sunnah-sunnah fitrah itu ada lima ; khitan, mencukur bulu kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak” [Muttafaq Alaih] Hadits ini umum, mencakup lelaki dan perempuan.

____________________________________________
[Fatawa Lajnah Daimah Lil Ifta’ 5/119,120]

SAAT ORANG TUA PILIH KASIH

Pertanyaan :

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bolehkah saya memberikan sesuatu kepada salah satu anak saya yang tidak saya berikan kepada anak-anak yang lain karena mereka sudah kaya ?

Jawaban :

Tidak boleh bagi anda untuk mengkhususkan salah seorang anak laki-laki maupun perempuan dengan sesuatu. Akan tetapi wajib untuk berbuat adil dengan mereka, sesuai dengan hitungan warisan, atau tidak sama sekali, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya : “Takutlah kepada Allah dan berbuat adillah antara anak-anakmu”

[Disepakati keshahihannya]

Akan tetapi jika anak-anaknya rela dengan pengkhususan tersebut, maka hal tersebut tidak apa-apa, selama yang merelakannya adalah orang-orang yang sudah baligh. Demikian pula bila di antara anak-anak anda ada yang dalam keadaan kesusahan, tidak bisa bekerja karena sakit atau cacat dan tidak ada bapaknya atau saudaranya yang menafkahinya, tidak pula mendapat santunan dari pemerintah yang memenuhi kebutuhannya, maka bagi anda hendaknya menafkahinya sebatas keperluannya hingga Allah mencukupi kebutuhannya.

[Fatawa Marâ’ah, 2/101]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita , penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hazmah Fakhruddin]

Umur yang Tepat untuk Memiliki Anak

Pertanyaan : Saya seorang wanita yang ingin segera menikah & calon suami saya sudah ingin segera memiliki momongan, saya mau bertanya_pada usia berapakah usia seseorang itu tepat untuk memiliki anak ?

Jawaban : Usia yang tepat bagi seorang pria dan wanita memiliki anak adalah sekitar usia 20-30 tahun

Seorang wanita yang melahirkan pada usia 35 tahun beresiko melahirkan dengan kondisi cacat namun hal itu dapat diatasi dengan menjaga menu konsumsi dengan konsumsi yang bergizi dan lebih berhati-hati. Sedang seorang wanita yang melahirkan pada usia 18 tahun beresiko melahirkan dengan kondisi Bayi Berat Badan Kurang. Namun hal ini juga dapat ditepis dengan rajin-rajin kontrol ke dokter kandungan.

_Dr. Lastiko_

Nah, sadaraQu semua…

Telah diketahuilah sekarang bagaimana usia yang tepat unuk memiliki momongan. Maka, rencanakanlah kehamilanmu dari sekarang. Dan bagi engkau yang sudah mempunyai ba’ah mengenainya namun belum jua menikah maka bersegeralah. Jangan tunggu usia mu bertambah hingga melebihi usia terbaikmu.