Diskusi Yukz…!

Pengajaran yang Keliru di bulan Ramadhan

Betapa luhurnya hati orang tua yang dengan kelembutannya mengajarkan sang anak senang beribadah sejak dini. Tapi, alangkah sedihnya jika perbuatan mulia tersebut adalah perbuatan sia-sia sorang hamba di hadapan Rabbnya. Sangat disayangkan bukan ???

“Barang siapa mengadakan hal baru dalam urusan (agama) yang tidak ada landasan hukumnya, maka ia tertolak.” (H.R. Bukhori dan Muslim)

dalam riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa mengerjakan amalan tanpa didasari perintah Kami, maka ia tertolak.”

Saat sang ibu coba mengajarkan buah hatinya belajar puasa, tak jarang mereka berkata pada anaknya, “Nak, coba belajar puasa setengah hari yaa…”

Nah, dengan hal baru yang diada-adakan seperti ini bukannya akan muncul sebuah bibit baru buah dari pendidikan sang ibu berupa ketaqwaan yang baik malah akan berdampak sebaliknya, yaitu munculnya frem bid’ah berkedok ibadah di mata anak. Tak pernah Rasulullah mencontohkan yang demikian tatkala mengajarkan Putra-Putri tercintanya. Alakulihal, lihatlah hasil didikan pola baru itu….ada penamaan ibadah baru “Puasa Tengah Hari”.

Wahai orang tua, para pengemban amanah Rabbul ‘Alamin…berbahagialah karena engkau tengah dipercaya mendidik insan mulia. Berhati-hatilah dengan hal demikian wahai orang tua kami tercinta…..Karena engkau tengah goreskan sesuatu hal yang tak main-main (ibadah).

Ada satu lagi hal yang mahfuzhoh ingat sebagai sebuah kesalahan. Semasa kecil, kami yang duduk di bangku TPA (Tamana Pendidikan Al-Qur’an) sering mendapat nasehat dari guru kami.

“Nak, kan lagi puasa…jangan berantem yaaa…tar kalo nangis puasanya batal looh !!! “

Nah looh….dapet ilmu dari mana tuh ??? (He..He…) jika bertengkar, dan pastinya dengan emosi maka itu hanya mengurangi nilai pahalanya. Nah yang ini mari kita share, karena ana sendiri lupa dalilnya tapi yang pasti ada_insya Allah. Janganlah para orang tua, terlebih guru yang dengan status mulianya tersebut melarang anak bertengkar dengan dalih: “jika menangis, puasa mereka akan batal” karena sejauh pemahaman kami belum pernah kami dengar ada dalil yang memberitakan demikian (jika ada silahkan share disini…)

8 thoughts on “Diskusi Yukz…!

  1. ..Hem.. hal2 yang membatalkan puasa ya.. Kalo setahu q, nangis tidak serta merta membatalkan puasa, kecuali air mata-nya dalam jumlah banyak dan tertelan.. hi hi.. Nangis hanya dikhawatirkan akan ‘mengurangi’ pahala puasa, atau malah dapat membuat puasa-nya hanya mendpatkan lapar dan haus.. Lha, jika anak2 di TPA disampaikan hal2 yg rumit dan sebenarnya.. hehehe, gimana ya.. Toh, ketika akhil baligh / dewasa, dia kan belajar lagi tantang hal itu..

    masalah puasa setengah hari, itu mah bukan ibadah.. itu namanya persiapan dan pengenalan ajah, lha wong bocah-nya itu ngomongnya ajah belum téteh.. sama lah seperti belajar baca Qur’an.. Apa kanak2 di-ajari langsung baca ayat – per ayat seketika sejak pertama kali dia liat ? Apa nggak lebih baik kalo di-kenalkan dulu huruf per-huruf.. Cara baca-nya.. Kondisi2-nya jika di-gandeng ..dst.. Atau, seperti kalo ngajarin sholat ke anak2.. Apa sebelumnya dibiarkan dulu sampai waktu-nya, dan ketika sudah harus bisa, langsung praktek seketika itu juga ? Apa gak bagus kalo di-ajarkan gerakan2-nya dulu, trus di-ajarkan juga bacaan2nya ketika posisi2 tertentu..

    He he.. salam… duh, semangat banget nih aq hari ini..😀

    Hmm….iya pak, harus semangat !!! ana lg belajar buka lembar diskusi hasil pemikiran ana setelah mendengar kajian ttg shaum beberapa hari yang lalu.
    Bukan diberi pengajaran yang rumit. Tapi, hindari penamaan2 spt “puasa setengah hari” itu bisa jadi pola fikir meski saat dewasa dia bisa mencari tau sendiri ilmu2nya, tapi tak dengan serta merta dan belum tentu tahap itu tertempuh anak Qt. Walau bagaimana, orang tua tetap punya andil besar dalam pendidikan dan pola pembiasaan anak. Bukankah anak itu bagaikan kapas putih ??? akan jd nasrani, majusi atau apapun itu tergantung orang tuanya bukan ??? (Hikz..Hikz..) hadits nya lupa (Hayoo, bantu)

    Semuanya memang bertahap tp bukan tanpa keterangan Syar’i nya. Anak mengerti koq jika Qt gunakan bahasa mereka. Coba za… ^_^
    Wallahua’lam…Afwan jk salah
    Hayoo gabung ..!!🙂

  2. wah, makanya anti ngasi komen yang agak aneh di blog ana… ternyata ini tho!

    Hee:mrgreen:

    Ehm!
    Kalo ana sih dulu diajarin puasa tengah hari itu sebenernya bukan untuk ibadah, tapi untuk latihan puasa sesungguhnya…

    Sebenernya ndak sebulan penuh sih dulu itu, cuma awal-awalnya aja😀

    Soalnya, ana terlecut untuk puasa sampai maghri karena ada anak yang usianya lebih muda tapi udah puasa sampe maghrib.

    Karena malu, akhirnya memutuskan untuk puasa maghrib seterusnya😛

    Jangan sedih ukhti, karena untuk itulah kita berada di sini…

    para generasi muda salafiyyin.
    kita yang bertugas untuk mengubah itu semuanya, dengan lembut tapi tegas😀

    Barakallahu fiikum….

    Subhanallah, Wafiikum Barokallah….

  3. oh ya, sekalian tanya. emang ada i’tikaf setengah hari ya?
    coz di kantor ada yg mo menyelenggarakan i’tikaf. tp cm malem thok.
    sependek pengetahuan ana, waktu i’tikaf tu minimal 1 hari, bahkan ada yg bilang 10 hari
    so?

    Afwan, mungkin ana bukan tempat bertanya yang baik. Tapi ana akan coba jawab sepengetahuan ana. Rasulullah pergi beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan full. Tapi, Tdk ada larangan jika ingin melaksanakan hanya semalaman. Bahkan sebentar dr diamnya seseorang dalam masjid dengan diniatkan beri’tikaf pun Insya Allah diperbolehkan. Namun, pastinya nilainya berbeda. Wallahu a’lam

  4. Maaf, jika ada yang salah dalam kata2 ana mohon koreksi dari semua teman2. Ana hanya berniat dengan diskusi ini teman2 turut beri ilmu ke ana. Ana masih miskin ilmu nich… Hikz…Hikz…😦

  5. Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiallahu’anha berkata :
    “kami membiasakan anak-anak untuk berpuasa. kami buatkan untuk mereka mainan dari pelepah kurma. apabila di antara mereka ada yang menangis merengek minta makan maka kami berikan mainan tersebut hingga tiba waktu berbuka puasa.” (HR. al-Bukhari:1960, Muslim :136)

    Urwah bin Zubair rahimahullah berkata :
    “anak-anak diperintahkan sholat apabila mereka sudah berakal dan diperintah puasa apabila telah amampu” (Mu’jam Fiqh as-salaf:4/52)

    sungguh membiasakan anak kecil untuk berpuasa adalah kebiasaan para salaf.

    “…..maka kami berikan mainan tersebut hingga tiba waktu berbuka puasa”,
    sungguh memberi pemahaman kepada anak tentang puasa tengah hari (poso bedhug) adalah sebuah ajaran yang keliru.hal ini pun tidak bisa kita pungkiri, bahwa masyarakat sekitar kita pemahaman seperti ini digunakan dalih untuk melatih anak untuk berpuasa….

    memberi pemahaman pada anak lebih baik memberi penjelasan dan pemahaman yang sebenarnya. katakan pada anak bahwasanya puasa yang disyariatkan itu adalah seperti ini dan itu…..

    akan tetapi, perlu diingat bahwasannya puasa tidak wajib bagi anak yang belum baligh. maka hendaklah kita membiasakan puasa pada anak yang belum baligh sesuai dengan kemampuan anak-anak, jangan sampai melampaui batas hingga membahayakan anak-anak.

    Subhanallah… Brenthulll, setujuuu
    Indahnya jika semua memahami bahwa telah mendapat contoh terbaik dari para slafush shalih….

  6. duduknya satu majelis ilmu, bisa menghancurkan satu majelis setan (makanya mau duduk aja ah), hehe..

    memang ada dalil tentangnya yaa….mohon beritahu.
    Jazakallah Khoir dah sudi berkunjung

  7. asslamu’alaikum..afwan ya umm
    kenapa anti masih memasang gambar makhluk bernyawa di blog anti? kan bisa diganti dengan gambar pemandangan mungkin…

    Hikz…maaf jika memang salah, ana fikir tak apa jika tak ditampakkan wajahnya. Ana suka sekali gambar anak2😦

  8. betul ukhti, secara syar’iyyah memang tidak ada. dan jika kita lakukan latihan puasa. maka yang terbaik adalah tetap kita beritahukan bahwa itu sifatnya latihan kepada putra-putri kita. hal ini saya praktekkan sendiri kepada keluarga saya.

    saya gunakan termin mamin pada saat dlohor usia 3 dan 4 tahun. saat ashar pada saat 5 tahun. dan 6 tahun saat mereka masuki ma’had, alahamdulillah. mereka sudah puasa.

    mungkin pilihan kata saja yang seringkali menjadi stigma, sehingga ada kekeliruan dalam makna bahasanya. mungkin mereka juga bermaksud demikian, untuk melatih.

    tapi paling tidak, pernyataan ukhti bisa memberikan gambaran tentang tidak baiknya memilih bahasa yang keliru dengan: puasa dlohor. begitu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s